Menlu Retno Marsudi menyambut applaus yang diberikan peserta Sidang Majelis Umum PBB saat diumumkan terpilihnya Indonesia, sebagai anggota tidak tetap DK PBB, Jumat (8/6) malam WIB. FOTO : ISTIMEWA

MENTERI Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyampaikan rasa syukurnya atas hasil Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), yang menetapkan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB untuk periode 2019-2020 mewakili Asia-Pasifik menggantikan Kazakhstan yang masa keanggotaannya akan berakhir 31 Desember 2018.

Dalam proses pemilihan tertutup, Indonesia berhasil memperoleh 144 suara dari jumlah keseluruhan 190 negara anggota PBB yang hadir, menyisihkan jauh suara yang diraih Maladewa sebanyak 46 suara. Dukungan kepada Indonesia ini melebihi 2/3 dari anggota PBB.

“Ini adalah amanah masyarakat internasional kepada Indonesia. Terpilihnya Indonesia merupakan hasil kerja keras seluruh komponen bangsa khususnya para Diplomat Indonesia,” kata Retno dalam pernyataannya yang disampaikan melalui video conference dari Markas PBB di New York, Jumat (8/6) malam.

Menurut Retno, dalam 2 hari terakhir menjelang pemilihan, tim kampanye pencalonan Indonesia telah melakukan pertemuan dengan hampir semua anggota PBB. “Saya sendiri telah melakukan lebih dari 40 pertemuan pada tingkat Menlu dan Duta Besar,” ujarnya.

Satu hal yang menonjol disampaikan negara-negara anggota PBB untuk mendukung Indonesia, menurut Retno, adalah rekam jejak diplomasi dan kontribusi nyata Indonesia bagi perdamaian, kemanusiaan, dan kesejahteraan di kawasan dan global.

“Jelas sekali bahwa masyarakat internasional sangat menghargai rekam jejak Indonesia dan melihat demokrasi dan toleransi di Indonesia sebagai aset untuk Indonesia dapat berperan aktif di DK PBB,” ungkap Menlu.

Budayakan Dialog

Menlu Retno Marsudi menyampaikan, sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Indonesia akan fokus kepada, pertama memperkuat ekosistem perdamaian dan stabilitas global.

“Indonesia akan mendorong budaya habit of dialogue, dalam penyelesaian konflik. Indonesia juga meningkatkan kapasitas pasukan perdamaian PBB termasuk peran perempuan,” tegasnya.

Kedua, Indonesia juga akan berupaya meningkatkan sinergi antara organisasi kawasan dengan DK PBB dalam menjaga perdamaian.

Ketiga, dalam menghadapi tantangan bersama masyarakat internasional dari terorisme dan ektremisme, Indonesia akan mendorong terbentuknya global comprehensive approach untuk memerangi terorisme, radikalisme, dan ekstremisme.

Keempat, Indonesia juga akan mendorong kemitraan global agar tercapai sinergi antara penciptaan perdamaian dan kegiatan pembangunan berkelanjutan. Kemitraan global yang kuat dalam menciptakan perdamaian, keamanan dan stabilitas tentunya akan berkontribusi pencapaian agenda pembangunan PBB 2030.

“Selain keempat fokus di atas, tentu isu Palestina akan menjadi perhatian Indonesia selama menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB,” kata Retno seraya menambahkan, Indonesia juga akan mengajak negara anggota Dewan Keamanan PBB lainnya untuk membuat Dewan Keamanan PBB bekerja lebih efesien, efefektif, dan akuntabel dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan dan perdamaian global. (set/hum/*)

BAGIKAN