Tagore Abubakar ketika menjenguk Sultanah Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam di Mataram, NTB. Foto : Dokumen

JAKARTA – Anggota DPR RI Ir. Tagore Abubakar tak kuasa menahan kesedihan ketika menerima kabar duka, Sultanah Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam tutup usia, pada Rabu 6 Juni 2018. Tagore nyaris tidak percaya karena terkejut mendengar berita itu. Tapi ia tampak tegar dan sabar, lalu mengucapkan doa.

“Innaa lillahi waa innaa ilaihi raajiuun, saya sudah dapat kabar. Kita sangat berduka,” ungkap Tagore.

Suaranya terdengar agak parau. Beberapa detik dia tercenung. Lalu menghela nafas panjang.

Tagore langsung terkenang kepada almarhumah semasa hidup. Suatu ketika, Tagore menjenguk Bunda Putroe, sapaan akrab Sultanah Putroe di Mataram. Pertemuan itu sungguh menoreh kesan mendalam.

Bukan hanya bagai melepas kerinduan kepada suatu cerita perjuangan. Tetapi juga melahirkan cerita-cerita baru.

Saat itu, selain ada jamuan makan bersama keluarga Bunda Putroe, dalam satu kesempatan Tagore diperlihatkan bukti sejarah penting berupa dokumen kuno. Dalam momentum itu juga dapat terpancar suatu ikatan kekeluargaan.

“Saya masih bisa merasakan semangat almarhumah saat bercerita,” kenang Tagore.

Menurut Tagore, Sultanah Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam adalah sosok penting dalam sejarah Aceh. “Beliau merupakan saksi penting dalam perjuangan Laksamana Malahayati,” kata Politisi PDI Perjuangan ini.

Malahayati adalah pejuang perempuan pertama di dunia yang bergelar “Laksamana”. Pada Agustus 2017 lalu dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Dalam satu catatan, Tagore Abubakar menjadi salah seorang Anggota DPR RI yang mendorong Laksamana Malahati menjadi Pahlawan Nasional.

9 November 2017, Bunda Putroe lalu menghadiri undangan Presiden Joko Widodo ke Istana Negara di Jakarta untuk menerima plakat, dan piagam gelar Pahlawan Nasional atas nama almarhumah Laksamana Keumalahayati.

“Kita semua pasti merasa kehilangan. Kita sedang berduka. Mari kita panjatkan doa untuk almarhumah,” tutur Tagore.

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar juga menyatakan duka yang mendalam. “Rakyat Aceh Tengah turut berduka dengan wafatnya Sultanah Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam,” ungkapnya lirih.

Menurut Shabela, bagi rakyat Aceh Tengah, Bunda Putroe punya hubungan historis yang lebih erat, karena Kesultanan Aceh Darussalam didirikan oleh turunan Linge, bernama Johansyah atau Merah Johan, seperti ditulis dalam buku ‘Silsilah Raja Islam di Aceh dan hubungannya dengan dengan raja-raja Islam Nusantara’ karangan Pocut Haslinda Syahrul.

Bahkan, Sultanah Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam sangat ingin menjenguk Linge, karena menurutnya dari sanalah leluhurnya berasal. Namun, sayang keinginan Sultanah tidak terwujud hingga ia tutup usia. (tim/yaa/red)

BAGIKAN