Prosesi pembukaan secara adat di Arma Ubud Bali, Jumat sore. Foto : LingMerdeka

DENPASAR – Ikut atau datang di acara Indigenous Celebration, adalah berbagi kearifan lokal yang sangat berharga kepada dunia nusantara dan internasional. Hal tersebut disampaikan Founder Ranu Welum & Indigenous Celebration, Emmanuela Shinta.

“Hanya sedikit mengulang dari apa yang disampaikan setiap kali berbicara tentang acara ini, dan seperti yang saya sampaikan di pesta pembukaan sebagai perwakilan dari seluruh Masyarakat Adat Indonesia, kepada tamu-tamu internasional. Bahwa semangat acara kita ini bukanlah pertunjukan,” kata Emmanuela, Jumat (11/5).

Menurutnya, pertunjukan berarti ada batasan antara tampilan dan penonton. “Sebaliknya, ini adalah sebuah perayaan, dimana kita merayakan bersama keunikan, perbedaan, persamaan dan khususnya identitas kita sebagi orang suku asli Indonesia. Ini juga adalah tempat dimana setiap suku asli bisa menyuarakan suaranya kepada internasional dan orang-orang dari belahan dunia lain,” tegasnya.

Emmanuela menjelaskan, acara ini adalah non profit. Sebab setiap tiket yang dijual akan digunakan untuk menanam satu pohon di Kalimantan, dan juga untuk mendukung komunitas.

“Kami berharap dengan Indigenous Celebration ini kita bisa belajar, berbagi, bersatu dan berjuang bersama demi warisan leluhur kita,” cetusnya.

Seperti telah diketahui, 30 lebih kelompok suku yang berbeda dari berbagai negara, Gayo adalah salah satu suku yang menghadiri acara Indigenous Celebration 2018, di Arma Ubud, Bali. Hadirnya suku tua yang mendiami Indonesia itu adalah delegasi yang dikirim oleh Dewan Adat Gayo.

Acara tersebut sebagai bentuk untuk mewarisi kebudayaan nenek moyang, sekaligus merayakan identitas sebagai orang asli dari tanah Nusantara. Dalam Indigenous Celebration juga diisi dengan edukasi budaya.

Selain itu ada panel diskusi tentang isu lingkungan dan hak masyarakat adat dari sudut pandang budaya. Ada pula rangkaian tuturan cerita budaya serta petuah-petuah adat.

Perhelatan akbar ini sendiri berlangsung Jumat hingga Minggu, 11-13 Mei 2018, yang diselenggarakan oleh Yayasan Ranu Welum. Prosesi pembukaan secara adat dibuka dipandu oleh Maia Balam dari Mexico, di Arma Ubud Bali, Jumat sore. Peserta dari seluruh perwakilan masyarakat adat, petua hingga seniman yang hadir, tampak mengenakan kostum ciri khas.

“Terima kasih telah berkenan datang untuk membagikan budaya, kearifan lokal dan petuah2 yang sangat berharga kepada dunia nusantara dan internasional,” demikian Emmanuela Shinta. (yaa/red)

BAGIKAN