Delegasi Dewan Adat Gayo melakukan performance Tari Guel dalam event Indigenous Celebration 2018, di Arma Ubud, Bali. Foto : LingMerdeka

DENPASAR – Malam telah menyelimuti Bali, Jumat (11/5). Di satu tempat, tepatnya di Arma Ubud, dalam suasana hari tanpa cahaya matahari itu, warna-warni cahaya membias ke langit di antara pertunjukan Tari Guel yang menggelegar dalam acara Indigenous Celebration 2018.

Dari awal pementasan, penonton yang hadir telah tampak antusias. Hentakan demi hentakan Penari Guel yang diiringi musik tradisional Gayo, bagai menghipnotis sejumlah penonton dan tubuh mereka ikut bergoyang.

Penampilan Tari Guel delegasi Dewan Adat Gayo itu mendapat kesempatan ketiga setelah tarian Dayak Maanyan dari Kalimantan Tengah, dan tarian Maori dari New Zealand. Kemudian disusul dengan tarian Australian Aboriginal Artist, dan beberapa suku lainnya.

“Saya tidak menyangka antusias penonton cukup tinggi menyaksikan penampilan Tari Guel. Tempat ini menggelegar oleh penampilan perwakilan kita,” ucap Jawahir, salah seorang delegasi Dewan Adat Gayo yang mendokumentasikan pertunjukan itu.

Tingginya antusias tamu nasional dan internasional itu, juga terlihat saat banyak penonton yang mengabadikan penampilan Tari Guel di atas panggung Indigenous Celebration 2018.

Bahkan, usai pementasan banyak pengunjung yang bertanya makna Tari Guel dan ingin foto Bersama delegasi Dewan Adat Gayo tersebut. “Kita sukses dalam penampilan perdana ini. Menggelegar,” kata Jawahir bangga. (yaa/red)

BAGIKAN