Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar menunjukkan mata uang Vietnam hasil penjualan sampel Kopi Arabika Gayo yang dipamerkan di Vietnam International Cafe Festival. Foto : Spesial For LingMerdeka

ANEH. Tentu saja. Akan terasa aneh jika di luar kebiasaaan, seorang pejabat setingkat bupati jualan. Aktifitas tersebut seperti yang biasa dilakukan pedagang di pasar.

Pemandangan “aneh” itu terlihat di Ho Chi Minh City, Vietnam. Tepatnya di acara International Cafe Show.

Tanpa canggung, Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar “jualan” kopi Arabika Gayo bersama sang Istri, Puan Ratna.

Gayo Coffee is the best Coffee in the word,” ucap Shabela kepada pengunjung baru mengenal dan mengetahui tentang kopi Gayo.

Para pengunjung pun terlihat antusias. Terlebih setelah mengetahui orang yang jualan adalah pemimpin satu daerah penghasil kopi Arabika terbesar di Indonesia.

Sontak, di tengah antusias pengunjung yang membeli “dagangan” si bupati ini, lantas di antara mereka meminta untuk foto bersama dengan Shabela yang berpakaian Kerawang Gayo.

Keikutsertaan delegasi Aceh Tengah dalam Cafe Show International di Vietnam, mendapat dukungan dari KJRI Ho Chi Minh City dengan penyediaan booth pameran dan berbagai fasilitas lainnya.

Sementara, Pemkab Aceh Tengah memfasilitasi beberapa pengusaha untuk memamerkan produk Kopi Gayo dalam event tahunan tersebut.

Dari informasi yang diterima, minat pengunjung yang tinggi terhadap kopi Arabika Gayo sudah terlihat pada hari pertama event Vietnam International Cafe Show yang berlangsung di Ho Ci Minh City, Kamis (3/5).

Diketahui, kopi Arabika Gayo sudah memiliki brand di pasar kopi dunia. Terutama Amerika Serikat sebagai importir terbesar selama ini.

Beberapa tahun terakhir, kopi Gayo mulai menembus pasar Eropa yang ditandai dengan pengiriman langsung dalam jumlah besar yang dilakukan oleh beberapa eksportir.

Kepada LingMerdeka, Shabela menegaskan pihaknya akan terus melakukan diplomasi kopi, terutama di pasar Asia yang selama ini masih relatif kurang, namun punya potensi penduduk yang besar seperti China.

Selain “jualan” diajang tersebut, momentum itu sekaligus dimanfaatkan Shabela untuk melihat budidaya dan proses pasca panen di Vietnam.

“Vietnam sudah mampu produksi kopi hingga mencapai 2 ton per hektar, karena itu selain mengikuti Cafe Show, kita juga ingin lihat budidaya dan proses pasca panennya,” kata Shabela.

Seorang eksportir Kopi Gayo, Ara Siberani, disela mengikuti Cafe Show meyakini peluang pasar masih besar ke Asia.

Menurut lelaki yang saat ini memimpin Koperasi Petani Kopi Arinagata itu, harus ada upaya terus menerus dan berkesinambungan untuk memperkenalkan kopi Gayo kepada masyarakat Asia.

“Salah satu cara promosi yang efektif adalah kita hadir dalam setiap ekspo atau pameran kopi seperti yang sedang kami ikuti di Vietnam ini,” ujarnya.

Kabag Humas Aceh Tengah, Mustafa Kamal mengatakan, partisipasi pengusaha Kopi Gayo di ajang Vietnam International Cafe Show adalah yang pertama sejak event tersebut dilaksanakan.

Terpisah, Finalis Puteri Kopi Indonesia Tahun 2011 asal Gayo, Dimas Dewi Pertiwi, yang dimintai tanggapannya mengatakan, langkah yang ditempuh oleh Shabela selaku kepala daerah harus diacungi jempol.

“Bahkan dua jempol. Apalagi Bupati Shabela “jualan” kopi bersama Ibu Puan Ratna,” serunya.

Menurut Tiwi, sapaan akrab seorang Finalis Puteri Kopi Indonesia itu, sebagai pemimpin daerah Shabela telah menunjukkan contoh yang patut ditiru.

“Artinya, siapapun dapat jualan kopi. Apalagi itu sebagai salah satu strategi promosi potensi daerah dan demi untuk menambah PAD. Konon lagi hidup dan besar dari “nafas” kehidupan itu. Kopi kan sumber kehidupan masyarakat Gayo,” ungkap Tiwi.

Tiwi menambahkan, saat ini yang harus dipikirkan bersama adalah bagaimana agar potensi sumber kehidupan itu semakin berkembang. “Untuk melakukan budidaya dan proses pasca panen kopi, memang harus banyak menggali referensi,” katanya. (bro/*/yaa/red)

BAGIKAN