Bunuh diri. Ilustrasi Foto: dok.JPG

KATA-KATA selalu memiliki dampak besar pada persepsi masyarakat. Bahkan, bisa berdampak pada kasus bunuh diri atau percobaan bunuh diri.

Dikutip dari jpnn.com, menurut sebuah studi Ludwig-Maximilians-Universitat München, pilihan kata dalam pemberitaan di media tentang kasus bunuh diri ternyata memiliki dampak yang terukur pada bagaimana pembaca kemudian merasakan dan mengevaluasi tindakan bunuh diri.

Sebenarnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan pedoman untuk liputan berita tentang kasus bunuh diri.

WHO menganjurkan agar kita menahan diri untuk tidak menyebut kata bunuh diri sebagai sebuah kata ‘sukses’ atau sebagai ‘usaha yang gagal’ karena hal ini bisa menyiratkan dan menggambarkan kematian sebagai hasil yang diinginkan.

Sebagai gantinya, dianjurkan untuk menulis kata meninggal daripada kata bunuh diri.

Studi ini dilakukan oleh Florian Arendt bersama Sebastian Scherr dan periset yang berbasis di Medical University of Vienna dan dipublikasikan di jurnal Social Science & Medicine.

Penulis menggunakan laporan surat kabar pendek termasuk tiga istilah dalam bahasa Jerman untuk menjelaskan kata bunuh diri, yakni Suizid, Selbstmord (pembunuhan sendiri) dan Freitod (free death) serta menggunakan peserta yang terlibat dalam penelitian ini untuk meringkas sikap mereka terhadap apa yang menjadi sasaran mereka untuk membaca dengan kata-kata mereka sendiri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga istilah pertama benar-benar memicu asosiasi yang berbeda dalam benak pembaca.

“Kami menemukan efek yang jelas, sepanjang peserta menyukai penggunaan istilah yang sebelumnya mereka baca di teks yang ditugaskan untuk masing-masing,” kata Arendt, seperti dilansir laman India Times, Senin (23/4).

Anehnya, kata ‘Freitod’, yang dianggap media sebagai kata yang bermasalah dianggap lebih ‘positif’ oleh para peserta.

“Kata Freitod menyiratkan bahwa korban membuat keputusan yang jelas dan rasional,” jelas Arendt.

Tapi semua bukti menunjukkan bahwa individu yang bunuh diri biasanya memiliki perspektif yang sangat terbatas mengenai situasi pribadi mereka, kehidupan dan lingkungan mereka-mereka yang menunjukkan semacam visi terowongan emosional.

“Terlihat dalam hal ini, sangat sulit untuk menggambarkan keputusan seperti itu bebas atau rasional,” jelas Arendt.(*/red)

BAGIKAN