Suasana ruang kedatangan Bandara Rembele pasca peristiwa yang terjadi, Kamis (12/4). Foto Aman Abbad/LingMerdeka

REDELONG – Pagi yang damai di kaki Gunung Berapi Burni Telong mendadak ricuh, Kamis (12/4). Cahaya matahari yang jatuh menghangati Bandar Udara Rembele seolah berubah panas lantaran lahirnya kepanikan. Ditambah Bupati Bener Meriah Ahmadi menerobos masuk ke area steril bandara tersebut.

Peristiwa ini berawal saat Pesawat Wings Air mendarat di Bandara Rembele. Di antara tamu yang berada di kawasan itu untuk menjemput saudara maupun kerabatnya, ada kepala daerah setempat. Kedatangan Bupati Ahmadi juga sama dengan sejumlah tamu-tamu lainnya.

Tiba-tiba dari sekitar bandara tersebar kabar bahwa mesin pesawat yang mengangkut 78 orang tersebut mati saat landing. Para penumpang yang menerima perintah harus dievakuasi ketika hendak turun di landasan runway 09 seketika panik.

Kepanikan juga melanda Ahmadi. Dia berusaha agar dapat masuk ruang kedatangan. Padahal area itu adalah daerah steril. Ternyata dari jumlah penumpang pesawat tipe ATR Nomor Seri 372 tersebut, ada sang istri, Hasanah. Belakangan juga diketahui seorang anaknya juga turut serta.

Menurut Abadi, PLH Bandara Rembele, dia melihat ada upaya paksa pintu daerah steril tersebut dibuka. “Saya berjarak sekitar 10 meter. Kacanya agak buram, gak jelas orang yang berada di luar,” ungkapnya menceritakan kronologis yang terjadi kepada LingMerdeka.

Pria 39 tahun itu menyadari tentang ketentuan atau ada Standard Operating Procedure (SOP). Dan aksi yang dia lihat patut disikapi.

Lalu Abadi buru-buru mendekat dan akhirnya mengetahui bahwa dari beberapa orang yang berada di depan pintu, salah seorangnya adalah Bupati Bener Meriah, Ahmadi.

“Saya melihat dari pintu samping. Rupanya ada bupati (Ahmadi). Karena ada bupati, pintu saya buka. Sebenarnya dalam SOP tidak bisa lewat. Itu area steril,” tegasnya.

Dalam keadaan panik dan suasana yang masih gawat, Abadi tidak dapat berbuat banyak saat pintu ruang kedatangan terbuka. Daerah steril itu seketika diterobos.

“Pintu itu memang terkunci. Saat saya buka, bupati (Ahmadi) yang duluan lewat,” jelas Abadi.

Sementara, Ahmadi yang dicoba dikonfirmasi melalui sms atau pesan singkat agar dapat ditelepon, sayangnya belum memberi jawaban. (yaa/red)

BAGIKAN