Konferensi Pers di Badan Geologi. Foto : Istimewa

HINGGA saat ini belum ada ilmu yang bisa memprediksi kapan gempa bumi dan tsunami akan terjadi. Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kasbani.

Keterangan yang diperoleh dari Kementerian ESDM, Sabtu (7/4), selama ini Badan Geologi melakukan upaya mitigasi bencana dengan memetakan daerah yang pernah terjadi tsunami yang disajikan dalam peta rawan gempa bumi dan tsunami.

“Tsunami tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, kecuali gempanya sudah terjadi. Potensi tsunami selalu mungkin terjadi di pantai-pantai wilayah Jawa, Sumatera, juga Nusa Tenggara. Nah yang paling penting adalah bagaimana kita melakukan mitigasi bencana geologinya,” kata Kasbani.

Kasbani menjelaskan, tsunami dapat disebabkan oleh tiga hal yaitu gempa bumi, ini hampir 80%, erupsi gunung api, dan longsor bawah laut. Untuk terjadinya tsunami ada beberapa persyaratan, yaitu magnitudo gempa besar, letak gempa ada di laut dan kedalamannya dangkal.

Kasbani mengungkapkan, beberapa upaya mitigasi bencana geologi yang telah dilakukan oleh Badan Geologi. Pertama, penelitian endapan tsunami, yang bertujuan untuk mengetahui jejak landaan tsunami yang pernah terjadi sebelumnya.

Kedua, mengeluarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Tsunami yang dibuat dengan pemodelan numerik dengan mempertimbangkan potensi gempa bumi msksimum yang mungkin terjadi di lepas pantai suatu daerah. Dan ketiga, sosialisasi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan ketahanan masyarakat menghadapi tsunami.

“Yang paling penting adalah mitigasinya. Dengan mengetahui endapan tsunami, kita jadi tahu sejarahnya. Setelah kita mengetahui kita juga membuat peta kawasan rawan bencana tsunami seluruh Indonesia yaitu berdasarkan tsunami yang pernah terjadi di daerah itu, potensi yang mungkin pernah terjadi. Kita juga harus meningkatkan kapasitas manusianya, memberikan latihan kepada warga daerah-daerah pesisir,” kata Kasbani. (ril/red)

BAGIKAN