Mustafa bersama kerabatnya “berburu” depik kering ke Kampung Gegarang, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Foto : Aman Abbad/LingMerdeka

RASBORA tawarensis, nama latin endemik di Danau Laut Tawar atau lebih dikenal dengan sebutan ikan depik, tetap menjadi primadona segenap warga Takengon, Aceh Tengah. Beberapa hari terakhir, harga ikan depik kering di pasaran senare (per bambu) Rp 100 ribu. Angka tersebut lebih murah dari sebelumnya, yang mencapai Rp 140 – Rp 160 ribu.

Penurunan harga tersebut karena saat ini ikan depik lagi masir (musim). “Beberapa waktu lalu sengkal (satu batok) harganya Rp 35 ribu, paling mahal Rp 40 ribu. Dalam senare isinya empat kal (batok). Jadi kalo dikali empat kan Rp 140 atau bisa Rp 160 ribu,” kata Mustafa, salah seorang tokoh Gayo, Selasa (3/4).

Pria 59 tahun ini dijumpai bersama beberapa kerabatnya tengah membeli ikan depik kering di kawasan Gegarang, Kecamatan Bintang. Mustafa mengatakan, mereka khusus ke kampung tersebut untuk “berburu” depik kering.

“Memang kalau lagi waktu masir, pasti mempengaruhi harganya. Sekarang memang sedang musim,” ungkapnya, sambil berbincang dengan pedagang yang membuka usahanya tersebut, persisnya di tepi jalan Takengon – Bintang.

Dalam sejarahnya, ikan yang sudah menjadi trade mark Kota Takengon tersebut, telah menjadi sumber ekonomi urang Gayo. Khususnya warga yang berdomisili di seputaran danau.

Seperti halnya suami-istri yang tengah memilih depik untuk Mustafa. Mereka telah bertahun-tahun mengandalkan endemik atau ikan asli Danau Laut Tawar itu sebagai penopang ekonomi keluarganya.

“Saya mau buat cecah depik. Kalau makan tak lengkap rasanya tanpa cecah depik,” cetus Mustafa.

Warga yang menetap di seputaran pusat Kota Takengon ini mengaku kadangkala melintasi kawasan itu, karena ia memang berasal dari Kampung Bintang. Seperti seminggu lalu, sambil bersilaturahmi dengan keluarga di Bintang, ia menyempatkan diri membeli depik kering.

“Sebenarnya di pusat pasar Kota Takengon juga ada dijual deping kering untuk cecah. Tapi kalau saya kebetulan ke Bintang, saya sering singgah di sini,” katanya.

Cecah depik adalah salah satu penganan khas Gayo. Bahan utamanya adalah depik yang telah melalui proses penjemuran. “Coba saja kalau tidak percaya. Pasti ketagihan,” pungkasnya. (yaa/red)

BAGIKAN