Menteri Mendikbud Muhadjir Effendy membuka Rapat Koordinasi Pendayagunaan TIK. Foto: Istimewa

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus mengoptimalkan pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk mewujudkan visi pemerintah sebagaimana tertuang dalam Nawacita. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berpesan agar TIK dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dan antar kelas sosial di masyarakat.

“Kita tahu TIK sudah menjadi bagian dari kehidupan. Karena itu, jangan hanya melihat sisi positifnya saja, tetapi juga harus diwaspadai dampak negatifnya,” kata Muhadjir Effendy dalam pembukaan Rapat Koordinasi (Rakor) Pendayagunaan TIK, di Jakarta, Selasa (20/3), dilansir dari Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat ini masyarakat sudah tidak lagi kesulitan mengakses informasi dan beraneka sumber belajar. Tetapi tantangan terbesar adalah mendapatkan sumber belajar yang andal, tepercaya dan berkualitas.

Menurut Mendikbud, terdapat beberapa ancaman yang mudah menyebar di media baru dan memengaruhi generasi muda. Disebutkannya seperti penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, paham radikalisme dan intoleransi, serta berbagai informasi palsu atau kabar bohong.

“Di tengah kemajuan TIK ini, guru berperan penting sebagai penjaga gawang atau gatekeepers, yang membantu menapis pengaruh buruk internet dan media sosial,” jelasnya.

Menurut Muhadjir, fungsi guru sebagai pengajar sangat mungkin digantikan dengan berbagai fasilitas TIK. “Tapi jangan sekali-kali menjadikan fasilitas TIK untuk menggantikan peran guru sebagai pendidik,” ujarnya.

Baginya, saat ini guru berperan penting sebagai penghubung sumber-sumber belajar (resource linkers). Kemudian, guru perlu mengembangkan diri sebagai fasilitator belajar siswa. Dan fasilitas TIK berperan penting untuk mengoptimalkan proses belajar di era kekinian.

“Guru harus bisa membimbing dan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai ‘untuk apa’, bukan sekadar ‘apa’ dan ‘bagaimana’,” tutur guru besar Universitas Negeri Malang ini.

Rakor Pendayagunaan TIK diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) dengan melibatkan 200 peserta yang berasal dari unit pelaksana teknis dan direktorat teknis Kemendikbud, serta pemerintah daerah.

Mengambil tema “Pendayagunaan TIK untuk Menguatkan Pendidikan dan Memajukan Kebudayaan”, rakor ini diharapkan dapat menghadirkan integrasi dan sinergi program, serta terobosan pendayagunaan TIK untuk pendidikan dan kebudayaan baik di pusat maupun daerah. (ril/red)

BAGIKAN