SENYUM RAMAH: Dua sosok ibu, Mak Seli dan Mak Yuyun, tersenyum ramah saat dihampiri tengah memetik kopi arabika Gayo di Somol, Timangan Gading, Takengon. (LingMerdeka/Aman Abbad)

TAKENGON – Mengawali Maret 2018, harga kopi arabika Gayo perlahan mulai mengalami kenaikan. Sumber “nafas kehidupan” petani itu mulai naik mencapai 20 persen dibandingkan minggu ketiga Februari lalu.

“Sekarang gelondongnya satu kaleng Rp 120 ribu. Naik Rp 20 ribu. Dua minggu lalu harganya Rp 100 ribu,” ucap Mak Seli saat dihampiri tengah memetik kopi di Dusun Somol, Kampung Timangan Gading, Minggu (4/3/2018).

Mak Seli menjelaskan, usai buah-buah kopi dipanen, lalu diantar kepada toke yang berada di kawasan Kampung Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah.

“Kami menjualnya ke toke di Paya Tumpi,” katanya, seraya menyebut tempat penampung gelondongan tersebut selain dekat dari Somol, juga sudah menjadi langganan sejumlah warga sekitar yang bercocok tanam “biji emas”itu.

Meski sudah melewati usia 60 tahun, Mak Seli terlihat cekatan memetik buah yang telah memerah, dan memilahnya dari warna hijau agar tidak salah petik.

Perempuan yang telah memiliki sembilan cucu ini tidak sendirian. Ia ditemani kerabatnya, Mak Yuyun, yang juga tampak semangat meski cahaya matahari bersinar terik. Kain sarung yang disulap menjadi kelubung setidaknya dapat menyaring sinar sang surya.

Dengan adanya pohon petai yang hidup disela-sela pohon kopi sebagai pelongoh (peneduh, Gayo – red), juga sangat membantu agar tidak terbakar sinar matahari yang kadangkala garang. Yang pasti, semangat mereka tidak luntur, demi meraih rezeki.

“Sekarang memang lagi enggak musim. Ini pun buahnya jarang-jarang,” sahut Mak Yuyun.

Belakangan diketahui ternyata mereka mangan ongkosen (pekerja harian – Gayo, red). “Ini bukan kebun kami. Kami hanya sebagai pekerja harian mengutip kopi di sini,” kata Mak Yuyun.

Namun, meski hanya mangan ongkosen, mereka dapat membantu sang suami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Biasanya, para pekerja harian memperoleh upah Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu dari pemilik kebun setiap kaleng gelondong kopi yang dipanen.

“Kemarin itu terakhir dipetik ada dapat 10 kaleng lebih,” imbuh warga Paya Tumpi itu.

Terpisah, salah seorang pegiat kopi arabika Gayo di Aceh Tengah dan Bener Meriah, Fardian mengatakan, harga tersebut sewaktu-waktu dapat berubah. “Dalam satu kaleng atau sara tem ada sepuluh bambu kopi. Kalau soal upah untuk yang mangan ongkosen variatif. Biasanya pemilik kebun bisa memberi upah Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. Bisa juga tidak berupa uang. Tapi diberi dua bambu biji kopi yang dipetik,” kata bapak dua anak itu.

Fardian menambahkan, saat ini pohon kopi yang hidup subur di dataran tinggi Gayo memang belum masuk masa panen raya. “Di beberapa kawasan harga gelondong kopi dapat berbeda. Tergantung tempatnya. Jarak wilayah dari pusat kota juga mempengaruhi harga. Harganya dalam beberapa hari atau bisa seminggu dan bisa lebih dapat naik atau sebaliknya,” katanya. (yaa/red)

BAGIKAN