Anggota DPR RI Ir. Tagore Abubakar melakukan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Desa Berawang Baru, salah satu wilayah pelosok di Kabupaten Aceh Tengah.

TAKENGON – 4 Pilar Kebangsaan yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika, harus tetap terjaga. Bahkan diperkuat dalam tatanan kehidupan masyarakat.

Dalam rangka membentuk rakyat yang berwawasan kebangsaan dan membangun kepribadian patriotisme, Anggota DPR RI Ir. Tagore Abubakar gencar melakukan sosialisasi Pilar Kebangsaan disejumlah daerah yang ia kunjungi. Seperti baru-baru ini, Tagore mendatangi salah satu wilayah pelosok di Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya Desa Berawang Baru.

Untuk tiba di Berawang Baru, harus menerobos belantara dan diwarnai lika-liku. Dari pusat ibu kota Takengon, rata-rata memakan waktu 120 menit.

Lima menit lagi waktu tepat menunjukkan pukul 12.00 Wib, Sabtu, 10 Februari 2018. Ratusan warga ternyata sudah menunggu kehadiran Anggota Komisi II yang membidangi Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah ini di tengah-tengah mereka.

Di antara sambutan warga yang sederhana lalu saling berjabat tangan, seorang ibu menangis menyambut kedatangan Tagore. Suasana suka cita pun diliputi rasa haru.

Sebelum tiba Berawang Baru, Tagore memang sempat mengatakan kedatangannya tak perlu disambut berlebihan, umumnya para pejabat negara; dikalungi bunga dan prosesi seremoni lainnya.

“Saya sudah pesan kepada panitia, tidak usah pakai sambutan yang berlebihan. Sederhana saja. Merakyat. Sebab saya wakil rakyat,” tuturnya kepada LingMerdeka yang satu kendaraan bersama Tagore.

“Yang terpenting adalah langkah kita ini bagaimana agar 4 Pilar Kebangsaan tetap terjaga dalam tatanan kehidupan masyarakat di seluruh pelosok negeri,” ungkap Tagore.

Usai penyambutan,Tagore lalu duduk berbaur dengan warga. Di antara warga, turut hadir tokoh masyarakat, Reje Kampung (Kepala Desa) dari 32 desa. Tak ketinggalan RGM, Imam Kampung maupun Petue. Tampak juga beberapa akademisi.

Berselang sekitar tiga menit saling beramah-tamah, hadirin yang hadir berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lalu disusul pembacaan ayat suci Alquran. Hikmad. Teriknya matahari tak lagi terasa menyengat. Sejuk, di antara pohon-pohon kopi.

Berbagai usia yang hadir tampak antusias acara yang juga diberi tajuk silaturahmi dan dialog bersama tokoh Nasional Gayo ini. Bahkan anak-anak yang turut serta dibawa orangtuanya, berlomba untuk mendapatkan bingkisan berupa buku tentang 4 Pilar Kebangsaan.

“Dalam kesempatan ini saya juga mengingatkan saudara-saudara, khususnya aparatur desa untuk selalu mengedepankan musyawarah. Apalagi untuk kepentingan masyarakat. Sebab, Pancasila yang menjadi salah satu pilar kebangsaan dan sebagai ideologi dasar negara Indonesia, mengajarkan kita betapa pentingnya musyawarah,” kata Tagore.

Tagore mengemukakan, dalam sendi-sendi kehidupan tentu ada dinamika dan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Namun demi kepentingan bersama, setiap masalah pasti dapat segera diselesaikan bila mengedepankan musyawarah.

“Dalam Pancasila tertuang dalam sila keempat, yang bunyinya kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan,” seru Tagore.

Pancasila, kata Tagore, ada aspek perwujudan keadilan sosial yang harus meliputi seluruh rakyat, dan keseimbangan antara hak dan kewajiban. “Hal ini tertuang dalam sila kelima, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Nah, lanjut Tagore, yang terjadi belakangan ini ada beberapa daerah, khususnya di Aceh Tengah tidak diperlakukan secara adil oleh pemerintah daerah. Oleh karena itu, Tagore mengajak dalam pemerintahan yang baru ini agar bersama mengkawal pembangunan.

“Mari sama-sama kawal program bupati dan wakil bupati yang baru saja dilantik. Kita kawal visi dan misi pimpinan daerah,” pintanya.

Kehadiran Tagore hari itu di Berawang Baru juga untuk menyerap aspirasi warga. Oleh karena itu dalam kesempatan dialog dimanfaatkan reje kampung dan tokoh masyarakat menyampaikan persoalan maupun keluhan. Seperti masih minimnya pembenahan fasilitas jalan. Hingga tenaga pengajar Sekolah Dasar (SD) dan masalah kesehatan.

Mendengar banyaknya keluhan dan persoalan yang mendera kawasan itu, Tagore tak kuasa untuk tidak menumpahkan rasa kecewanya. Ia berjanji akan membahas dan segera mencari solusi dengan pemerintah daerah.

Berawang Baru masuk di wilayah administrasi Kecamatan Pegasing. Masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai petani. Namun menuju desa yang terisolir ini, harus memutar dari Kecamatan Jagong.

Nama-nama desa yang ada di Kecamatan Pegasing di antaranya, Wih Terjun, Pantan Musara, Pandangan Mata, Arul Badak, Jejem, Terang Ulen, Pepalang, Ujung Gele, Wih Nareh, Kala Pegasing, Kala Nareh, Wih Jernih, Tebok, Uring, Erlop, Dedekok, Wih Ilang.

Selanjutnya Wih Lah, Lelumu, Suka Damai, Pejeget, Gelelungi, Kung, Blang Bebangka, Pegasing, Kute Lintang, Mas Arba, Kemenyen, Jurusen, Simpang Kelaping, Uning, Linung Ayu, dan Berawang Baru. (yaa/red)

 

 

 

BAGIKAN